| Reggae Putih di Paris |
|
Senin, 01 Oktober 2007 Musik JIMMY S HARIANTO Setelah dua puluh tahun terkubur, grup musik legendaris asal Inggris, The Police, seakan bangkit lagi. Trio Sting dan kawankawan membuat sekitar 80.000 penonton di Stade de France, Paris, ikut mengentakkan kaki dan tangan dalam nyanyian. Peristiwa musik hari Sabtu (29/9) di Stade de France, stadion tempat penyelenggaraan sepak bola Piala Dunia 1998 ini, ibarat sebuah arena damai yang tak peduli dengan suasana kegalauan politik dan dendam sejarah apa pun di berbagai belahan dunia saat ini.
Dengan sapaan ramahnya, pemain bas dan juga vokalis utama The Police, Sting (Gordon Sumner), menarik hati publik Perancis dengan ungkapan kata-kata Perancis dalam setiap pergantian lagu. Juga dentingan serta raungan gitar Andy Summers, ataupun gebukan drum Stewart Copeland, si pendiri grup The Police. “Kalian di sini jumlahnya 80.000-an. Jadi, di stadion ini jumlah tangan ada 160.000. Ayo, ikut tepuk tangan dalam lagu,” ungkap Sting dalam bahasa Perancis yang simpatik. Tak syak lagi, stadion sepak bola yang rumputnya ditutup papan fiber untuk tempat berdiri lebih dari 40.000 penonton yang tidak duduk ini bergeretak dengan tepuk tangan riuh, mengikuti entakan musik The Police yang masih seperti dulu: warna rock, punk, dengan entakan musik asal Jamaika, reggae. “Reggae putih” (tak banyak pemusik pop kulit putih yang membalut musik mereka dengan entakan musik hangat Jamaika ini) di Stadion Paris ini pun menggelar kembali hit-hit yang pernah top pada tahun 1980-an, seperti Message in the Bottle (pembuka lagu) atau hit-hit platinum mereka, seperti Roxanne (1977), Outlandos d’Amour (1978), Regatta de Blanc (1979), Ghost in the Machine (1981), atau hit terakhir mereka sebelum “bubar”, Every Breath You Take (1986). “Mereka masih hebat, bisa membawakan musik-musik tahun 1980-an dalam cara modern, multimedia,” ungkap Giring Ganesha, vokalis grup musik Nidji, yang bersama kelima rekan segrupnya ikut larut dalam entakan musik The Police di Stade de France, Sabtu malam itu. Nidji menonton konser The Police lantaran “meraih” penghargaan sebagai “band pembawa perubahan” dalam rangkaian tur musik A Mild Live Soundrenaline 2007 di Padang (17 Juli), Palembang (24 Juli), Bandung (1 Agustus), Surabaya (7 Agustus), dan Denpasar (13 Agustus) lalu. Konser The Police, kemarin, merupakan sebuah pergelaran musik yang disajikan ke depan mata serta telinga secara multimedia. Kehebatan stamina Sting—yang relatif termuda di antara pemusik-musik di atas kepala 4 (40-an tahun ke atas)— dalam membawakan 15 lagu (plus 3 tambahan, lantaran penonton tak mau beranjak dari stadion, sebelum The Police main lagi), sungguh mengesankan. Namun, yang terutama memikat adalah permainan musik si jago tua Andy Summers pada gitar listriknya ataupun Stewart Copeland pada drum dan perkusi. Sting—yang lebih terkenal di antara mereka karena bersolo karier—menarik perhatian karena tampil dengan gitar bas kesayangannya yang catnya sudah butut dan mengelupas di sana-sini, bermerek Fender. Lebih kurang 20 tahun tak bermain bersama, mereka toh tetap kompak tampil bermusik dalam satu grup. Tur pertama Tur di Stade de France merupakan seri pertama dari rangkaian tur reuni The Police 2007. Sebuah tur, yang mungkin akan menjadi tur mereka yang pertama dan terakhir semenjak bersatu kembali, setelah “bubar” sekitar 20 tahun silam (1986). Sebuah tur yang khusus diadakan untuk menandai 30 tahun hit singel mereka, Roxanne, penanda pembentukan grup musik yang pernah ngetop pada tahun 1980-an ini. The Police memang tidak pernah menyatakan diri bubar pada tahun 1986. Hanya saja, setelah tahun itu, grup musik yang mengusung warna musik rock berlumur punk, reggae, dan juga jazz dalam komposisi yang mereka bawakan ini memang tak pernah lagi tampil bersama dalam satu grup di depan publik. Sting keburu populer ke seluruh dunia dengan tampil sendirian. Band yang formasinya bertiga ini pernah ngetop dengan album mereka Synchronicity (nomor satu) di Inggris dan Amerika Serikat tahun 1983. Di AS, album ini meraih delapan piringan platinum. Sayang, band yang dibentuk pada tahun 1977 ini hanya berumur pendek, hampir 10 tahun saja. Meski hanya bertiga, grup rock-punk (white)-reggae dan jazzy ini memang serba bisa. Lihat Sting, misalnya. Ia tidak hanya fasih memainkan gitar bas dan sebagai vokalis utama, tetapi juga memainkan keyboard—termasuk bass pedal—saksofon, pan flute. Rekannya, Andy Summers, selain sebagai gitaris utama, juga penyanyi latar untuk alunan suara Sting, di samping juga bisa main keyboard, bass pedal, seperti halnya Sting. Sedangkan Stewart Copeland, selain yang utama adalah penabuh drum, juga bisa menjadi penyanyi utama untuk beberapa lagu The Police (”On Any Other Day”, “Does Everyone Stare”). Grup Inggris yang hanya berusia singkat dan didirikan oleh penabuh drum kelahiran AS, Stewart Copeland, pada awal 1977 ini memang lahir pada saat London tengah dibanjiri kemunculan grup-grup beraliran punk. Dan sebenarnya, formasi pertama The Police adalah Copeland, Sting, dan gitaris Henry Padovani. Trio ini hanya melahirkan satu album singel, Fall Out/Nothing Achieving, di samping menjadi grup pendamping dalam pertunjukan musik kelompok yang waktu itu lebih terkenal, Cherry Vanilla, serta Wayne County & The Electric Chairs. Tahun 1977 mereka bahkan pernah tampil berempat—Copeland, Sting, Padovani, dan Summers—serta pernah tampil dalam berbagai tur. Namun, Padovani, yang relatif kurang “hebat” permainan gitarnya, akhirnya gugur dari kelompok “grup kelas platinum” Eropa ini. Semua album keluaran mereka sepanjang tahun 1978-1983, Outlandos d’Amour, Reggatta de Blanc, Zenyatta Mondatta, Ghost in the Machine, dan Synchronicity, meraih penjualan platinum di Amerika Serikat. Juga album live (rekaman pertunjukan) mereka, The Police Live. Belum terhitung berbagai musik iringan film (soundtrack) mereka, serta berbagai album kompilasi, termasuk The Police, Reunion Tour, yang terdiri dari 28 lagu top mereka dalam dua compact disc itu. Memang, The Police tidak “semelegenda” seperti halnya grup Inggris, The Beatles atau Rolling Stones. Akan tetapi, pada era tahun 1980-an itu setidaknya The Police memberi warna tersendiri dalam ranah musik pop dunia, dengan campuran warna rock, reggae, punk, dan bahkan jazz. Lihatlah lagu “kenang-kenangan” top mereka, seperti Message in the Bottle, Don’t Stand So Close to Me, De Do Do Do, De Da Da Da, atau bahkan hit mereka, Every Breath You Take. Dan jangan lupa, The Police hanya satu dari sedikit grup “kulit putih” yang ikut ramai-ramai mengusung warna dominan musik reggae dalam suguhan musik mereka, di samping grup putih lainnya, seperti The Clash. Jadilah, tontonan di Stade de France kali ini sebuah tampilan nostalgia sebuah grup reggae putih….
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.21
3.21 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||